Uang sakuku hanya cukup untuk ongkos

Kenangan Masa Kecil yang Paling Membekas di Ingatan merupakan tema arisan link blog bersama komunitas Gandjel Rel. Tema ini diangkat oleh mommy - mommy cantik Nia Nurdiansyah dan Anjar Sundari, mereka adalah orang yang sangat menginspirasi kita semua.

Masa kecil itu buatku adalah masa dimana hal-hal yang paling indah terjadi. Masa disaat masih berkumpul dengan anggota keluarga lengkap, masa masih suka main masak-masakan dan masa masih bisa meminta apapun dari orang tua.



Hal terberat pada masa kecilku adalah disaat harus mengerjakan PR. Bahasa Inggris..
Pelajaran yang tidak aku sukai dan sangat sulit untuk diucapkan. Tulisan Bahasa Inggris dengan lisannya saja berbeda, beda satu huruf dalam satu kata saja sudah memiliki arti yang berbeda.
Jadi intinya aku tidak suka pelajaran Bahasa Inggris pada jaman sekolah dasar.


Sebenarnya bukan tentang Bahasa Inggris yang ingin aku utarakan disini.  Tetapi ada satu kenangan masa kecilku yang sangat membuatku trauma hingga terbawa sampai sekarang.

Saat SD ( Sekolah Dasar) aku bersekolah di SD. Merdeka 5 Bandung. Jarak sekolah dengan rumahku sangatlah jauh, jika menempuh dengan kendaraan pribadi +- 30- 45 menit. Jika menggunakan angkutan umum bisa 1 Jam lebih perjalanan.

Rumahku berada di kawasan Kopo, sedangkan sekolahku berada di kawasan Merdeka. Orang tuaku memasukkan aku kesekolah itu karena merupakan sekolah negeri favorit sekota Bandung. Berharap aku bisa mendapatkan pelajaran dan pengetahuan yang lebih baik dari sekolah - sekolah lainnya. Buat orang tuaku jarak bukanlah alasan untuk anaknya menuntut ilmu. Lebih baik keluar biaya banyak dan menempuh jarak jauh, asalkan mendapatkan kwalitas terbaik.




Dari kelas 4 SD sampai awal kelas 6 SD, aku diantar jemput dengan mobil sekolah. Tetapi diakhir kelas 6 SD aku harus menggunakan fasilitas umum, karena setiap hari selalu ada pemantapan pelajaran yang pulang sekolahnya lebih lama dari jam biasanya. Antar jemput sekolah tidak mau menunggu waktu aku pulang, terlalu lama dan tidak mungkin mengorbankan anak lainnya untuk pulang lebih lama lagi bersamaku.


Akhir kelas 6 SD aku belajar menggunakan angkutan umum. Perjalanan dari rumahku ke sekolah, harus menggunakan 3x ganti angkutan. Dari angkot kecil, bus Damri dan kemudian lanjut dengan angkot kecil lagi. Pada masa itu angkutan umum sangatlah aman untuk digunakan, bahkan dengan anak SD sekalipun. Tidak marak dengan yang namanya penculikan anak dan pelecehan.


Tapi ada dimana satu masa, aku harus merasa ketakutan yang berlebih hingga saat ini.
Sulit untukku untuk menghilangkan kenangan itu. Tapi buatku peristiwa itu bisa menjadi pelajaran berguna dan membuatku untuk lebih berhati-hati.

Saat itu aku sudah duduk dibangku kelas 6 SD.
Aku mengikuti pelajaran tambahan yang selesai pukul 17.30 wib. Aku harus mengejar waktu untuk mendapatkan angkutan umum. Aku berlari dari pekarangan sekolah sekitar 10 meter untuk mendapatkan angkutan pertamaku. Angkot (angkutan) yang ku naiki jurusan Palapa - Dago - Palapa, warna angkutannya biru tua. Sangat mudah untukku untuk mendapatkan angkot pertamaku. Yaaa mungkin karena aku anak kecil, jadi masih bisa diselipin di bangku penumpang. Perjalanan kurang lebih 20 menit untuk mencapai terminal Palapa. So far semua baik-baik aja. Oh iya ongkos anak SD saat itu adalah Rp. 300 .

Uangku yang aku taruh dikantong baju seragam sebanyak Rp. 850 . Uang itu memang aku siapkan pas untuk ongkos pulang kerumah. Aku tidak menyiapkan uang lebih untuk jaga - jaga apabila terjadi sesuatu di jalan. Seluruh uang jajanku, aku habiskan disekolah.


Rp. 850 dikurangi dengan ongkos pertamaku Rp. 300, masih bersisa Rp. 550.
Dengan santainya aku menaiki angkot keduaku dari terminal Palapa menuju terminal Leuwi Panjang. Perjalanan cukup mulus, tapi karena saat itu adalah jam pulang kantor dan pulang sekolah, jadi jalanan cukup padat. Aku sampai di Terminal Leuwi Panjang pukul 18.00 . Waktu itu memang sudah masuk waktu Magrib. Kalau perjalanan normal biasanya dari Terminal Leuwi Panjang kerumahku paling hanya menempuh waktu 15 - 20 menit. Ongkos keduaku kubayar dengan uang Rp. 300 .


Yesss... sebentar lagi aku sampai rumah. Yang sudah terbayang olehku adalah, Pulang kerumah, langsung mandi, makan malam dan menonton tv.

Tapi.... ternyata aku salah...




Angkot ketiga yang harus aku tumpangi sangatlah susah, semua penuh dengan orang yang sangat ramai di Terminal Leuwi Panjang. Malam itu hujan deras, dan sudah pasti perjalanan menuju rumahku sangat macet dan biasanya banjir.

Hari itu sebenarnya aku tidak sendirian. Aku bersama teman sekelasku yang memang rumahnya searah dengan rumahku. Aku pulang bersama Tiwi, tau Tiwi khan? Yang sekarang sudah menjadi artis. Yang dulu beken karena ajang pencarian bakat.. Tiwi T2!!! Yang punya anak perempuan remaja pasti tau sama Tiwi T2.

Yaaaaa dia adalah partnerku dibangku SD dulu. Rumahku berada dilokasi Kopo Elok, sedangkan Tiwi berlokasi di Kopo Indah. Jaraknya memang agak jauh, tapi kalau mau kerumahnya dengan angkutan umum selalu melewati perumahanku dulu.


Oke lanjut yaaaa ceritaku... Kalau mau tentang Tiwi, japri aja langsung... *orangnya.. xixixi #lol

Kurang lebih setengah jam aku menunggu di Terminal Leuwi Panjang, akhirnya aku dapat juga bangku di angkutan umum yang menuju rumahku. Angkot itu jurusan Leuwi Panjang - Soreang. Ongkos untuk sampai dirumahku cukup dengan Rp. 250 saja.
Kalau dihitung pas donk ya uangku untuk ongkos. Rp. 300 + Rp.300 + Rp. 250 Totalnya Rp. 850 .


Walaupun malam itu hujan sangat deras, dengan polosnya aku dan temanku duduk santai di dalam angkot. Yang ada difikiranku tidak masalah lama sampai dirumah yang penting tetap sampai.
1 Jam perjalanan sudah ditempuh. Aku belum ada firasat jelek sedikitpun. Memang kondisi jalan sangatlah macet. Bisa dikatakan macet total karena jalanan terputus akibat banjir besar dari air kali yang meluap.

Zaman itu belum marak dengan yang namanya Hand Phone. Jadi pulang telatpun tidak bisa mengabarkan orang rumah.

2 Jam didalam angkot, mulai membuatku gelisah. Aku bingung bagaimana caranya sampai dirumah dengan cepat dan selamat. Jam menunjukkan pukul 20.00 . Aku belum juga sampai dirumah. Ternyata......
Angkot yang aku tumpangi mengambil jalan potong kesebelah kanan. Jalan itu memang bisa dilewati, tapi nanti akan tembus ke arah rumah temanku. Jarak dari perumahanku ke perumahan temanku kurang lebih 10km.

Aku mulai takut, air mataku hampir saja jatuh ke pipi. Angkot terus berlaju seakan tidak ada penumpang yang rumahnya terlewati.

Begitu sampai dijalan tembus, aku memberanikan bertanya pada pak supir. "Pak... nanti tetap lewat Kopo Elok khan?
Ternyata pak supir marah padaku.. " yang benar aja atuh neng, masa udah sampe sini saya harus balik ke Kopo Elok?? Itu jawaban pak supir.


Angkot berhenti pas didepan perumahan Kopo Indah. Temanku turun dan berpamitan. " Nov aku duluan yaa... kamu gimana?
"Iya Wi... sok gak apa-apa, aku mah gampang ntar cari telephon umum, minta jemput aja disana".

Temanku turun dari angkot, dan mungkin saat itu sudah sampai dirumahnya. Sedangkan aku masih bingung dan takut. Akhirnya tidak jauh dari perumahan teman, aku menyetop angkot yang kutumpangi. Pak saya berhenti disini saja. Pas mau bayar angkot, aku baru ingat uangku dikantong sisa Rp. 250 . Kalau aku bayarkan semuanya untuk ongkos, bagaimana caranya aku bisa telephon ke rumah. Aku memberanikan diri untuk membayar ongkos Rp. 150 . Berharap sisanya bisa kupakai untuk menelepon mamaku dirumah. Tapi pak supir marah, "Neng masa ngasih ongkos Rp. 150? ieuy teh jauh neng...

Aku bingung, aku bilang ke pak supir kalau uangku gak cukup. Akhirnya pak supir minta dibayar Rp. 200 . Sisa uangku Rp.50 saja. Untuk menelepon kerumah tidak cukup, dan untuk naik angkot lain yang menuju kerumahku juga tidak cukup.


Malam itu sudah jam 21.00 wib. Aku si anak SD kelas 6 terpaksa jalan kaki menuju rumah sambil hujan - hujanan, dengan badan ditutupi jas hujan berwarna pink yang memang selalu ku bawa didalam tas sekolahku. Aku berjalan +- 10km dengan rasa takut. Aku takut ada yang menculikku malam - malam. Sepanjang jalan aku hanya bisa menunduk sambil menangis.

Aku sampai didepan perumahanku pukul 22.00 .
Pak Satpam yang memang sudah mengenaliku, langsung mengantarku kerumah. Aku tetap menangis dan aku menggigil kedinginan.


Papa dan Mamaku ternyata sudah melaporkan ke polisi bahwa aku hilang, mereka mencariku ke sekolah, ke rumah teman - temanku dan melapor ke RT setempat.
Akhirnya aku sampai kerumah dengan selamat, menempuh perjalanan selama 4 1/2 jam dengan rasa takut dan kedinginan.

Sampai saat ini, aku tidak berani keluar rumah apabila hanya memilki uang yang pas untuk ongkos. Aku harus menyiapkan uang lebih seandainya terjadi sesuatu denganku dijalan.
Aku lebih memilih diam dirumah daripada harus keluar dengan uang pas - pas an..


Inilah kenangan masa kecil yang paling membekas di ingatanku..
Sebenarnya begitu banyak kenangan Indah yang ingin aku bagikan.  Tapi kenangan ini yang membuatku cemas dan trauma sampai sekarang dan bisa menjadi pelajaran buat kita semua. 

Love
Novia