Sang Buya yang Selalu Menjadi Idola



Buya Hamka adalah sebuah nama yang selalu tercatat di sejarah umat muslim di Indonesia. 
Beliau seorang tokoh ulama besar yang lahir di Indonesia dan menjadi bagian dari catatan penting perjuangan seorang muslim di era pergerakan melawan penjajah Belanda, saat kemerdekaan maupun paska kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Karya masterpiece nya yang banyak dikagumi umat islam adalah Tafsir Alquran 30 jus yang diberi nama Tafsir Al - Azhar.

"Buya", sebutan yang biasa yang dilontorkan untuk Buya hamka adalah seorang ulama yang sangat toleran dalam kehidupan, tetapi disisi lain beliau sangat kuat dan tegas ketika berbicara menyangkut akidah. Salah satu contohnya adalah ketika beliau menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) pertama. Dengan berani beliau mengeluarkan sebuah fatwa yang sampai saat ini masih menjadi bahan percakapan, diskusi keagamaan, dan bahkan mendatangkan kekaguman, yaitu fatwa haram bagi umat islam merayakan natal bersama. Fatwa tersebut juga yang kemudian menyebabkan beliau mengundurkan diri sebagai Ketua Umum MUI karena tidak sejalan dengan keinginan Pemerintah yang memintanya untuk membatalkan fatwa tersebut.

Nasihat dan dakwahnya yang begitu sejuk, membumi dan aktual begitu disukai jemaah Mesjid Agung Al - Azhar, pemirsa TVRI, pendengar RRI, serta para jemaah lain yang menghadiri taklim - taklim yang diisi oleh Buya Hamka sebagai penceramahnya.

Buya juga biasa menjadi seorang yang di Tuakan dan pemberi nasihat. Begitu banyak umat - umat yang sengaja datang dikediaman beliau,  hanya untuk mendapatkan nasihat serta diminta memberikan petuah penting, terutama dalam urusan rumah tangga dan agama.

Buya sangat ramah pada siapapun, tangannya selalu terbuka untuk menolong siapapun yang membutuhkannya, apalagi jika urusannya berhubungan dengan nilai keagamaan. 

Dibalik keramahan dan kebaikan beliau kepada umat. Buya juga merupakan seorang Ayah yang tegas dan sangat sayang terhadap anak serta istrinya. Tetapi tidak hanya tegas, Buya juga termasuk ayah yang keras dalam mendidik anak - anaknya. 
Tidak ada toleransi untuk membentuk agar anak - anaknya menjadi orang yang Shaleh dan berbakti kepada Agama serta Orang tua. Buya dapat mengetahui kapan anaknya berkata jujur atau tidak. 

Buya Hamka yang memiliki nama asli Haji Abdul Malik Karim  Amrullah lahir di Maninjau Sumatra Barat pada tanggal 17 Februari 1908. Beliau merupakan putera pertama dari pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah.


Pada tanggal 5 April 1929, Buya menikah denga Ummi Hajjah Siti Raham Rasul. Namun Ummi Hajjah Siti Raham Rasul meninggal dunia pada tahun 1971.
Kurang lebih 6 tahun setelah ditinggal oleh sang istri, Buya menikah lagi dengan Hajah Siti Chadijah. 

Secara formal, Buya hanya mengenyam pendidikan Sekolah Desa, namun tidak tamat. Kemudian pada tahun 1918, Buya belajar Agama Islam di Sumatra Tawalib Padang Panjang. Ini pun pendidikannya tidak diselesaikan. Dan pada tahun 1922, Buya kembali belajar Agama Islam di Parabe Bukittinggi, juga tidak sampai selesai. Akhirnya Buya banyak menghabiskan waktunya dengan belajar sendiri secara otodidak. Buya banyak membaca buku. Lalu belajar langsung pada tokoh dan ulama, baik yang berada di Sumatra Barat, Jawa, bahkan sampai ke Mekkah Arab Saudi. 

Selama hidupnya Buya pernah mendapatkan jabatan atau amanah yang diberikan kepadanya. 
Beberapa amanah yang pernah beliau jabat adalah sebagai Konsul Muhammadiyah Sumatra Timur, Ketua Front Pertahanan Nasional, Ketua Sekretariat Bersama Badan Pengawal Negeri pada Departemen Agama RI, Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ketua Majelis Ulama Indonesia ( MUI ), dan masih banyak lagi jabatan - jabatan yang pernah beliau emban. 

Sebagai ulama dan sastrawan, ada sekitar 118 karya tulisan ( artikel dan buku ) Buya yang telah dipublikasikan. Topik yang beliau angkat melingkupi berbagai bidang, beberapa diantaranya mengupas tentang Agama Islam, filsafat sosial, tasawuf, roman, sejarah, tafsir Alquran dan otobiografi.





Buya juga pernah mendapat berbagai gelar kehormatan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Lalu gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Prof. Moestopo Beragama. 
Kemudian di tahun 1974 beliau mendapat gelar yang sama dari Universitas Kebangsaan Malaysia. 
Setelah meninggal dunia, Buya mendapat Bintang Mahaputra Madya dari Pemerintah RI di tahun 1986. Dan terakhir di tahun 2011, Buya mengdapatkan penghormatan dari Pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. 

Buya meninggal dunia pada hari Jumat, 24 Juli 1981. 
Beliau dikebumikan di TPU Tanah Kusir dengan meninggalkan 10 anak - 7 laki-laki, 3 perempuan.
Dari kesepuluh anak-anak tersebut, saat ini jumlah cucu Buya ada 31 orang dan cicit sebanyak 44 orang.

pic by Google
Walaupun saat ini Buya sudah tidak ada, tetapi karya - karya beliau akan selalu menjadi Idola didiriku.. 
Sebahagian buku beliau, sudah tersusun manis di lemari ruang kerjaku.. 

Beliau adalah tokoh Idola yang akan selalu aku ingat, dan selalu ada disetiap Doa ku kepada Sang Pencipta Allah SWT.. 


Novia



Note : Sebahagian sumber tulisan dikutip dari buku "Ayah" karya Irfan Hamka